Review Film Taken. Film Taken arahan Pierre Morel yang rilis pada 2008 tetap jadi salah satu action thriller paling ikonik hingga 2026, terutama sebagai debut Liam Neeson di genre “dad with particular set of skills”. Dengan budget hanya 25 juta dolar, film ini raup lebih dari 226 juta dolar dunia dan jadi pembuka franchise tiga film. Durasi 93 menit penuh aksi tanpa jeda, Taken ubah Neeson dari aktor drama jadi bintang action di usia 50-an. Premis sederhana—ayah selamatkan putri dari penculik di Paris—dieksekusi dengan intensitas tinggi yang bikin penonton tegang sepanjang waktu. Review ini bahas kenapa Taken masih layak ditonton ulang sebagai klasik revenge modern. BERITA BOLA
Plot Ketat dan Karakter Neeson yang Mematikan: Review Film Taken
Cerita Taken fokus pada Bryan Mills (Liam Neeson), mantan agen CIA yang pensiun untuk dekat dengan putrinya Kim (Maggie Grace). Saat Kim liburan ke Paris, ia diculik sindikat perdagangan manusia Albania. Bryan punya 96 jam untuk selamatkan sebelum Kim hilang selamanya. Plot linier tanpa twist berlebih: Bryan kejar petunjuk, interogasi brutal, dan habisi musuh satu per satu. Karakter Bryan digambarkan sebagai ayah protektif dengan “particular set of skills”—telepon ikonik “I will find you, and I will kill you” jadi quote legendaris. Famke Janssen sebagai mantan istri dan Maggie Grace sebagai Kim beri emosi keluarga yang buat aksi terasa personal. Villain Albania dipimpin Marko (Arben Bajraktaraj) dingin tapi tak terlalu dalam—fokus utama tetap pada misi Bryan yang tak terhentikan.
Aksi Brutal dan Tempo Non-Stop: Review Film Taken
Aksi di Taken jadi daya tarik utama—brutal, efisien, dan realistis tanpa CGI berlebih. Pierre Morel pakai handheld camera untuk fight scene close-quarters yang chaotic tapi jelas, seperti Bryan lawan preman di apartemen atau kapal yacht akhir. Neeson lakukan hampir semua stunt sendiri, dengan koreografi silat dan CQC yang presisi. Adegan interogasi dengan listrik atau torture singkat tapi sadis beri nuansa gelap. Tempo film super cepat—tak ada filler panjang, langsung dari penculikan ke pengejaran Paris hingga klimaks. Skor Nathaniel Méchaly minimal tapi tegang, tambah intensitas. Kritik kadang bilang kekerasan terlalu grafis atau stereotip Albania, tapi justru itu yang buat film ini beda dari action ringan—revenge tanpa kompromi.
Warisan dan Relevansi Saat Ini
Taken sukses karena jadi blueprint “one man army” revenge thriller, pengaruh ke film seperti John Wick atau The Equalizer di tema ayah/pria tua yang habisi musuh demi keluarga. Liam Neeson di usia 56 jadi action star baru, buka pintu karir kedua dengan franchise serupa. Rating Rotten Tomatoes 59% kritikus tapi 85% audience tunjukkan apel penonton biasa—film ini lebih untuk thrill daripada kritik dalam. Di 2026, dengan trilogi Taken lengkap dan Neeson masih aktif di action, film pertama tetap terbaik karena kesederhanaan dan intensitas orisinal. Tema perdagangan manusia dan proteksi keluarga tetap relevan, meski eksekusi agak simplistik. Taken bukti bahwa premis sederhana bisa jadi blockbuster jika punya aktor karismatik dan aksi mematikan.
Kesimpulan
Taken 2008 adalah action revenge klasik yang gabungkan performa Liam Neeson ikonik, plot ketat tanpa jeda, dan aksi brutal efisien dengan pesan ayah protektif yang resonansi luas. Pierre Morel ciptakan film yang tak beri ruang napas—93 menit penuh ketegangan dari Paris hingga klimaks yacht. Di usia hampir 20 tahun, tetap fresh sebagai film yang luncurkan era Neeson action hero. Bagi penggemar thriller sederhana tapi intens, Taken wajib rewatch—film yang buat “I will find you” jadi ancaman paling dingin di bioskop. Warisan franchise bukti kualitas orisinal, klasik yang tak lekang waktu di genre revenge. Taken ingatkan bahwa kadang satu orang dengan skill khusus cukup untuk ubah segalanya. Film yang satisfying dari awal hingga akhir.