Review Film Silent Night Deadly Night: Remake Mengerikan? Remake Silent Night, Deadly Night (2025) kini tersedia di platform digital mulai akhir Januari 2026, setelah tayang di bioskop pada 12 Desember 2025 oleh Cineverse. Disutradarai dan ditulis Mike P. Nelson (yang sebelumnya sukses dengan Wrong Turn reboot), film ini menjadi reboot kedua dari klasik slasher kontroversial 1984, serta installment ketujuh dalam franchise. Dengan Rohan Campbell sebagai Billy Chapman, Ruby Modine sebagai Pamela Sims, dan pendekatan baru yang menggabungkan elemen Dexter-style vigilante, remake ini berhasil mencuri perhatian selama musim liburan. Premiere di Fantastic Fest September 2025 langsung mendapat sambutan hangat, dan kini setelah rilis teatrikal serta box office sederhana, pertanyaan besarnya: apakah versi ini benar-benar lebih mengerikan, atau justru lebih pintar daripada aslinya? BERITA TERKINI
Plot dan Pendekatan Baru yang Berani di Film Silent Night Deadly Night: Remake: Review Film Silent Night Deadly Night: Remake Mengerikan?
Cerita tetap berakar pada trauma Billy Chapman: sebagai anak kecil, ia menyaksikan orang tuanya dibunuh oleh pria berpakaian Santa. Trauma itu membentuknya menjadi pembunuh berantai musiman yang hanya aktif di bulan Desember. Namun, Nelson mengubah formula klasik secara signifikan. Billy bukan lagi psikopat tanpa arah seperti di film 1984; ia kini seperti antihero yang terkontrol, dipandu oleh “suara” dalam kepalanya bernama Charlie (Mark Acheson sebagai Shotgun Santa) yang berfungsi mirip Dark Passenger di Dexter. Charlie membantu Billy memilih target “naughty”—orang-orang jahat yang pantas dihukum—sehingga pembunuhan terasa seperti misi moral daripada kekacauan acak.
Billy menyimpan trofi darah di Advent calendar khusus, dan setiap hari Desember ia harus membunuh satu orang agar tetap terkendali. Konflik muncul ketika Billy bertemu Pamela Sims (Ruby Modine), wanita dengan explosive personality disorder yang justru memahami sisi gelapnya. Hubungan romantis mereka menambah lapisan emosional: apakah cinta bisa menyelamatkan Billy dari kegelapan, atau malah mempercepat kehancurannya? Pendekatan ini membuat cerita lebih dari sekadar slasher Natal; ada satir sosial tajam tentang “naughty list” masyarakat, serta eksplorasi trauma dan penebusan yang lebih dalam.
Visual, Gore, dan Performa Aktor Film Silent Night Deadly Night: Remake: Review Film Silent Night Deadly Night: Remake Mengerikan?
Secara teknis, remake ini terlihat jauh lebih polished daripada aslinya. Sinematografi menangkap suasana musim dingin yang dingin dan suram, dengan pencahayaan merah-hijau khas Natal yang kontras dengan kekerasan brutal. Adegan pembunuhan kreatif dan berdarah—kapak, shotgun, serta improvisasi senjata musiman—dieksekusi dengan gaya yang cepat dan memuaskan. Gore-nya cukup intens untuk rating NR, tapi tidak berlebihan seperti beberapa slasher modern; fokusnya lebih pada ketegangan psikologis dan humor hitam.
Rohan Campbell membawa Billy dengan karisma gelap yang menarik—ia membuat penonton ikut simpati pada pembunuhnya, mirip Michael Myers di Halloween Ends. Ruby Modine sebagai Pam mencuri perhatian dengan performa energik dan unpredictable; chemistry mereka terasa autentik dan menambah daya tarik rom-com horor yang aneh. Mark Acheson sebagai Charlie memberikan suara internal yang creepy namun lucu, sementara aktor pendukung seperti David Lawrence Brown dan David Tomlinson mengisi peran dengan baik tanpa mencuri spotlight. Secara keseluruhan, performa solid mendukung visi Nelson yang ambisius.
Kesimpulan
Silent Night, Deadly Night (2025) berhasil menjadi remake yang layak dan bahkan lebih baik dari aslinya dalam banyak aspek. Ia mempertahankan esensi slasher Natal—Santa pembunuh, trauma masa kecil, kekerasan musiman—tapi menambahkan lapisan karakter, satir, dan emosi yang membuatnya terasa segar. Apakah lebih mengerikan? Ya, dalam hal ketegangan psikologis dan gore yang lebih tajam, tapi juga lebih menghibur berkat humor gelap dan twist romantis yang tak terduga. Kritikus memuji sebagai yang terbaik di franchise, dengan skor tinggi di Rotten Tomatoes dan potensi cult following tahunan.
Bagi penggemar horor liburan, ini adalah pilihan sempurna untuk ditonton berulang—seperti Black Christmas remake yang akhirnya jadi comfort watch. Meski box office-nya tidak meledak, digital release sekarang membuka akses lebih luas. Jika kamu suka slasher pintar dengan hati, remake ini wajib ditonton. Santa memang datang untuk membunuh, tapi kali ini dengan gaya yang jauh lebih stylish dan mengerikan sekaligus menyenangkan.