Review Film Maryam: Kisah Tak Terungkap. Di tengah gelombang film horor Indonesia yang terus bermunculan, “Maryam: Janji dan Jiwa yang Terikat” hadir sebagai karya yang berbeda, menggabungkan teror psikologis dengan elemen gore yang brutal. Film ini tayang perdana di bioskop pada 18 September 2025, diproduksi oleh VMS Studio, dan langsung menarik perhatian penonton dengan basis cerita dari kisah nyata yang viral melalui podcast. Disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis dan ditulis oleh Lele Laila, film berdurasi 92 menit ini bukan sekadar hantu biasa, melainkan eksplorasi mendalam tentang belenggu gaib yang mengikat jiwa manusia. Sejak rilis, film ini telah ditonton jutaan kali, menjadi topik hangat di media sosial dengan tagar #MaryamFilm yang trending. Kisahnya yang diangkat dari pengalaman nyata seorang wanita bernama Maryam membuat penonton merasakan ketegangan yang lebih dari sekadar hiburan, tapi juga refleksi atas trauma dan obsesi tak kasat mata. Di era di mana horor sering bergantung pada jumpscare murahan, “Maryam” menawarkan pendekatan segar yang fokus pada kengerian batin, membuatnya layak dibahas sebagai salah satu horor terbaik tahun ini. INFO CASINO
Sinopsis dan Alur Cerita: Review Film Maryam: Kisah Tak Terungkap
Cerita “Maryam: Janji dan Jiwa yang Terikat” berpusat pada Maryam, seorang wanita yang sejak lahir terikat oleh janji gaib dengan sosok jin Ifrit, makhluk gaib terkuat yang jatuh cinta padanya. Hidup Maryam penuh teror: surat-surat misterius berisi ungkapan cinta dari jin itu selalu muncul kembali meski dibakar atau dibuang, bisikan-bisikan yang hanya ia dengar, dan gangguan yang merembet ke orang-orang terdekat. Prolog film dibuka dengan adegan hitam-putih yang menggambarkan masa kecil Maryam, di mana ia mengalami kesurupan brutal di kelas sekolah dasar, lengkap dengan elemen gore seperti self-harming yang membuat penonton merasa tidak nyaman. Transisi ke warna saat Maryam dewasa menandai perubahan, tapi teror justru semakin intens.
Alur berkembang secara lugas tanpa banyak drama bertele-tele. Maryam dibantu Kyai Saleh, seorang ulama yang mendampinginya sejak kecil, tapi kyai itu tiba-tiba meninggal secara misterius. Penggantinya, Ustadz Farhan, memahami kondisi Maryam dan berusaha melindunginya, bahkan sampai memutuskan menikahinya sebagai upaya memutus ikatan gaib. Namun, jin Ifrit tak mudah dikalahkan; ia mampu menyerupai wujud Maryam, memanipulasi orang sekitar, dan menciptakan adegan-adegan mencekam seperti penyerangan tak terlihat. Film ini menghindari jumpscare berlebih, malah mengandalkan teror psikis melalui suara berisik, close-up wajah ketakutan, dan momen gore penuh darah yang menguji mental. Kisah diakhiri di momen krusial tanpa resolusi penuh, mencerminkan fakta bahwa kasus nyata Maryam masih berlanjut, menambah lapisan realisme yang membuat penonton terus memikirkannya setelah keluar bioskop.
Pemeran dan Karakter Utama: Review Film Maryam: Kisah Tak Terungkap
Keberhasilan film ini tak lepas dari pemilihan aktor yang tepat dan akting mereka yang total. Claresta Taufan memerankan Maryam dewasa dengan kedalaman luar biasa; ekspresinya menyampaikan campuran ketakutan, marah, dan putus asa secara natural, terutama melalui tatapan mata yang menakutkan dan teriakan histeris. Ia berhasil membuat karakter Maryam terasa relatable sebagai korban trauma seumur hidup, bukan sekadar korban horor klise. Shaqueena Medina sebagai Maryam kecil juga mencuri perhatian dengan totalitasnya; di usia 9 tahun, ia mampu memerankan adegan kesurupan yang terasa nyata, lengkap dengan emosi yang meledak-ledak.
Wafda Saifan sebagai Ustadz Farhan membawa nuansa pelindung yang tegas, menunjukkan chemistry kuat dengan Claresta dalam upaya memutus ikatan gaib. Rukman Rosadi sebagai Kyai Saleh memberikan sentuhan otentik dengan dialog berbahasa Arab dan ayat-ayat suci, menambah keaslian elemen religi. Pemeran pendukung seperti Maryam Supraba sebagai ibu Maryam yang penuh penyesalan, Debo Andryos, Totos Rasiti, Ridwan Kainan, Rahmet Ababil, dan Ayu Dyah Pasha melengkapi ensemble dengan baik. Mereka tampil maksimal, terutama dalam adegan korban manipulasi jin, meski beberapa seperti Rahmet Ababil bisa dimanfaatkan lebih untuk sisipan humor ringan. Secara keseluruhan, akting ensemble ini membuat karakter terasa hidup, didukung lokasi syuting di desa pesisir yang natural dan tanpa polesan berlebih, memperkuat atmosfer kampung sederhana yang panas dan mencekam.
Respons dan Tinjauan Awal
Sejak tayang, “Maryam: Janji dan Jiwa yang Terikat” mendapat respons positif dari penonton dan kritikus, terutama untuk keberaniannya menyimpang dari formula horor Indonesia biasa. Banyak yang memuji pendekatan teror psikis yang dominan, di mana ketegangan dibangun melalui detail suara, editing rapi, dan close-up yang membuat penonton merasa terjebak. Adegan gore brutal menjadi daya tarik bagi penggemar horor ekstrem, sementara basis kisah nyata dari podcast Lentera Malam menambah nilai autentik, membuat film ini bukan hanya hiburan tapi juga diskusi tentang kepercayaan gaib. Di bioskop seperti XXI, reaksi penonton di screening awal menunjukkan ketegangan tinggi; banyak yang memejamkan mata atau menutup telinga saat adegan brutal.
Tinjauan awal memberikan rating rata-rata 7-8 dari 10, dengan pujian untuk eksekusi teknis yang kuat, seperti prolog hitam-putih yang ikonik dan transisi visual cerdas. Akting Claresta dan Shaqueena sering disebut sebagai highlight, sementara sutradara Azhar Kinoi Lubis diapresiasi karena membuat horor yang intens tanpa bergantung jumpscare. Kritik minor datang dari pace yang agak lambat di bagian tengah, membuat sebagian penonton merasa bosan, serta kurangnya dinamika atau humor untuk mencairkan suasana. Meski begitu, film ini trending di media sosial, dengan diskusi tentang apakah jin Ifrit benar-benar ada atau hanya metafor trauma. Secara komersial, film ini sukses, terbukti dari tiket terjual habis di akhir pekan pertama, dan dianggap sebagai angin segar di genre horor yang sering repetitif.
Kesimpulan
“Maryam: Janji dan Jiwa yang Terikat” membuktikan bahwa horor Indonesia bisa lebih dari sekadar hantu penampakan; ia adalah cerita tentang perjuangan batin melawan obsesi gaib yang brutal. Dengan akting kuat, narasi lugas berdasarkan kisah nyata, dan teror psikis yang menggigit, film ini layak ditonton bagi pecinta genre yang mencari pengalaman mendalam. Meski ada kekurangan seperti ritme lambat, kekuatannya di autentisitas dan gore membuatnya memorable. Di tengah tahun 2025 yang penuh konten horor, “Maryam” menonjol sebagai reminder bahwa ketakutan terbesar sering datang dari dalam diri sendiri. Jika Anda siap uji nyali, film ini adalah pilihan tepat untuk malam yang tak terlupakan.