Review Film Kingdom Apes: Evolusi Terakhir Kawanan Kera

Review Film Kingdom Apes: Evolusi Terakhir Kawanan Kera

Review Film Kingdom of the Planet of the Apes: Evolusi Terakhir Kawanan Kera. Kingdom of the Planet of the Apes, film keempat dalam reboot franchise Planet of the Apes yang disutradarai Wes Ball dan dirilis Mei 2024, hingga Februari 2026 masih menjadi salah satu blockbuster sci-fi paling dibicarakan dan sering ditonton ulang di platform streaming. Dengan rating rata-rata 7,2/10 dari penonton dan 80% di Rotten Tomatoes, film berdurasi 145 menit ini berhasil meraup lebih dari 397 juta dolar di box office global. Berlatar beberapa generasi setelah kematian Caesar di War for the Planet of the Apes, cerita mengikuti Noa (Owen Teague), seekor kera muda dari klan Eagle yang kehilangan keluarganya karena serangan klan lain. Perjalanan Noa membawanya bertemu Raka (Peter Macon), kera bijak yang masih memegang ajaran Caesar, dan manusia misterius bernama Mae (Freya Allan). Film ini bukan sekadar aksi petualangan; ia adalah eksplorasi akhir evolusi kera dan manusia di dunia pasca-virus, dengan pertanyaan besar: apakah kera akan mengulang kesalahan manusia, atau menemukan jalan baru? INFO GAME

Alur Cerita yang Epik dan Penuh Konflik: Review Film Kingdom Apes: Evolusi Terakhir Kawanan Kera

Cerita dimulai dengan Noa dan klan Eagle yang hidup damai di hutan, masih memegang ajaran “Caesar is dead, ape is home” sebagai warisan. Namun kedamaian itu hancur ketika klan Proximus Caesar—dipimpin Proximus (Kevin Durand), kera tiran yang memuja nama Caesar tapi memutarbalikkan ajarannya—menyerang dan menawan anggota klan Noa. Noa melarikan diri dan bertemu Raka, kera tua yang masih menghormati nilai asli Caesar: “ape not kill ape”. Bersama Raka dan Mae (manusia yang bisa berbicara), Noa berusaha menyelamatkan klannya dari Proximus yang ingin membangun kerajaan baru dengan meniru peradaban manusia—lengkap dengan benteng, tentara, dan teknologi.
Alur berjalan seperti petualangan epik: perjalanan melintasi gurun, reruntuhan kota manusia, dan pertempuran besar di pantai. Tidak ada pahlawan sempurna; Noa masih muda dan impulsif, Mae menyimpan rahasia besar, dan Proximus bukan penjahat kartun—ia adalah pemimpin yang percaya bahwa kekuasaan adalah satu-satunya cara bertahan. Ending film terasa bittersweet dan terbuka: kemenangan ada, tapi harga yang dibayar sangat mahal, dan pertanyaan tentang masa depan kera dan manusia tetap menggantung.

Performa Owen Teague dan Visual yang Memukau: Review Film Kingdom Apes: Evolusi Terakhir Kawanan Kera

Owen Teague sebagai Noa memberikan penampilan motion-capture yang luar biasa—ekspresi matanya, gerakan tubuh, dan suara yang penuh keraguan membuat Noa terasa sangat manusiawi meski seekor kera. Peter Macon sebagai Raka membawa kebijaksanaan dan kehangatan yang kontras dengan kekerasan di sekitarnya, sementara Kevin Durand sebagai Proximus Caesar menjadi antagonis yang kompleks: karismatik, ambisius, tapi juga tragis karena salah memahami warisan Caesar. Freya Allan sebagai Mae memberikan dimensi manusia yang misterius dan kuat.
Visual Weta FX (yang sama dengan trilogi Caesar) kembali memukau: bulu kera terlihat sangat realistis, ekspresi wajah penuh detail, dan latar dunia pasca-apokaliptik—reruntuhan kota yang ditumbuhi tanaman, pantai yang hancur, dan hutan lebat—terasa sangat hidup. Adegan-adegan aksi, terutama pertempuran akhir di pantai, dibuat sangat epik dengan ribuan kera dan manusia dalam frame yang sama.

Makna Lebih Dalam: Evolusi Terakhir dan Warisan Caesar

Di balik petualangan, Kingdom of the Planet of the Apes adalah penutupan filosofis trilogi reboot. Caesar sudah tiada, tapi ajarannya tetap hidup—meski ditafsirkan berbeda oleh generasi baru. Proximus mewakili distorsi kekuasaan: ia menggunakan nama Caesar untuk membenarkan tirani. Noa dan Raka mewakili harapan: kembali ke nilai asli “ape not kill ape” dan hidup harmoni dengan alam. Mae sebagai manusia menunjukkan bahwa siklus kehancuran bisa berulang jika manusia dan kera tidak belajar dari masa lalu.
Film ini juga bicara tentang evolusi moral: apakah kera akan mengulang kesalahan manusia (perang, kekuasaan, penindasan), atau menciptakan masyarakat yang lebih baik? Makna terdalamnya adalah bahwa “evolusi terakhir” bukan tentang kekuatan fisik atau teknologi, melainkan tentang kemampuan memilih kebaikan meski dihadapkan pada kekerasan dan trauma. Legacy Caesar bukan kekaisaran, melainkan harapan bahwa generasi berikutnya bisa lebih baik.

Kesimpulan

Kingdom of the Planet of the Apes adalah film epik yang langka: megah sekaligus intim, penuh aksi sekaligus sangat filosofis, dan sangat menghibur sekaligus menggugah. Kekuatan utamanya terletak pada visual Weta FX yang memukau, performa motion-capture Owen Teague dan cast kera yang luar biasa, serta arahan Wes Ball yang berhasil menjaga warisan trilogi Caesar sambil membawa cerita ke arah baru. Film ini berhasil menjadi penjelajahan dunia pasca-apokaliptik yang tidak hanya seru, tapi juga membuat penonton bertanya tentang masa depan kemanusiaan (dan kera). Jika kamu mencari petualangan besar dengan makna dalam tentang evolusi, kekuasaan, dan harapan, Kingdom of the Planet of the Apes adalah pilihan yang sangat tepat. Tonton sekali saja mungkin tidak cukup—karena setiap kali ditonton ulang, kamu akan semakin menghargai betapa dalamnya pesan yang disampaikan. Film ini bukan sekadar sekuel; ia adalah evolusi terakhir dari sebuah franchise—dan bukti bahwa cerita tentang kera dan manusia bisa tetap relevan dan menyentuh hingga puluhan tahun ke depan.

BACA SELENGKAPNYA DI….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *