Review Film The Electric State: Perang Manusia dan Robot

Review Film The Electric State: Perang Manusia dan Robot

Review Film The Electric State: Perang Manusia dan Robot. The Electric State yang rilis di Netflix pada 14 Maret 2025 menjadi salah satu film sci-fi paling ambisius tahun ini, disutradarai oleh Anthony dan Joe Russo—duo di balik Avengers: Endgame. Berlatar dunia alternatif tahun 1990-an pasca-perang besar antara manusia dan robot, film ini mengikuti perjalanan seorang remaja yatim piatu yang mencari adiknya sambil menghadapi sisa-sisa konflik teknologi. Dibintangi Millie Bobby Brown dan Chris Pratt, durasi sekitar 128 menit ini menawarkan visual megah, efek spesial canggih, dan campuran aksi road trip dengan elemen emosional. Meski menuai kritik beragam—beberapa menyebutnya mahal tapi kurang greget—film ini tetap jadi tontonan visual yang menarik bagi penggemar sci-fi dystopian. REVIEW KOMIK

Sinopsis dan Alur Cerita: Review Film The Electric State: Perang Manusia dan Robot

Cerita berpusat pada Michelle (Millie Bobby Brown), remaja yatim piatu yang tinggal di panti asuhan di dunia pasca-perang robot. Manusia menang melawan pemberontakan mesin, tapi robot-robot yang selamat diasingkan ke Exclusion Zone, wilayah terlarang di barat Amerika. Suatu malam, Michelle dikunjungi Cosmo, robot kecil lucu yang tampaknya dikendalikan oleh adiknya, Christopher—yang selama ini dianggap meninggal. Keyakinan bahwa Christopher masih hidup mendorong Michelle melakukan perjalanan berbahaya ke Exclusion Zone.
Di tengah jalan, ia bertemu Keats (Chris Pratt), mantan tentara perang robot yang kini jadi penyelundup, beserta robot pendampingnya Herman (disuarakan Anthony Mackie) yang penuh sarkasme. Mereka terpaksa bekerja sama menghadapi ancaman dari kelompok misterius, termasuk tokoh-tokoh seperti Ethan Skate (Stanley Tucci) yang mewakili kekuatan teknologi manusia. Alur mengikuti road trip klasik: kejar-kejaran, pertarungan dengan drone dan robot liar, serta penemuan rahasia besar tentang perang dan nasib robot. Film ini mengeksplorasi tema rekonsiliasi antara manusia dan mesin, meski dengan cara yang cukup langsung dan kadang terasa familiar.

Performa Aktor dan Produksi: Review Film The Electric State: Perang Manusia dan Robot

Millie Bobby Brown membawa Michelle dengan campuran kerapuhan remaja dan tekad kuat—peran yang cocok dengan pengalaman aktingnya di proyek-proyek besar. Chris Pratt sebagai Keats menghadirkan humor khasnya: santai, sedikit sombong, tapi punya hati. Chemistry keduanya terasa natural, terutama saat berdebat atau saling menyelamatkan di tengah aksi.
Pemeran pendukung seperti Ke Huy Quan (dalam peran ganda), Woody Harrelson, Giancarlo Esposito, Brian Cox, dan Stanley Tucci menambah bobot, sementara suara Anthony Mackie sebagai Herman jadi salah satu highlight lucu. Produksi terlihat mewah—budget besar terasa di visual retro-futuristik: lanskap gurun penuh reruntuhan robot raksasa, kota-kota terbengkalai bergaya 90-an, dan efek CGI robot yang mulus. Sinematografi menangkap skala epik perjalanan, musik mendukung nuansa petualangan, dan adegan aksi cukup intens tanpa berlebihan.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan utama The Electric State adalah visualnya yang memukau dan dunia alternatif yang unik—perpaduan estetika 1990-an dengan elemen sci-fi dystopian terasa segar. Aksi road trip yang dinamis, humor dari interaksi manusia-robot, dan pesan tentang koeksistensi membuatnya mudah dinikmati. Penampilan Pratt dan Brown jadi daya tarik kuat, terutama bagi penggemar mereka.
Namun, beberapa bagian terasa predictable dan terlalu bergantung pada formula Hollywood standar. Kritik sering menyebut narasinya kurang mendalam, pacing kadang lambat di tengah, dan tema rekonsiliasi manusia-robot disampaikan secara agak klise tanpa eksplorasi yang lebih tajam. Efek visual hebat tapi cerita terasa kurang greget, membuatnya lebih seperti hiburan ringan daripada karya mendalam.

Kesimpulan

The Electric State adalah petualangan sci-fi visual yang ambisius dan menghibur, cocok sebagai tontonan Netflix untuk yang suka cerita post-apocalyptic dengan sentuhan road trip dan robot. Millie Bobby Brown dan Chris Pratt membawa energi positif ke layar, didukung dunia yang kaya visual dari Russo brothers. Meski bukan film revolusioner dan mendapat kritik karena terasa mahal tapi kurang inovatif, ia tetap layak ditonton bagi penggemar genre ini—terutama jika Anda ingin sesuatu yang epik, penuh aksi, dan punya pesan sederhana tentang perdamaian antara manusia dan teknologi. Di tengah banjir konten streaming, The Electric State berhasil menonjol sebagai salah satu produksi Netflix terbesar tahun ini yang patut diberi kesempatan.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *