Review Film Jatuh Cinta Seperti di Film: Cinta di Film. Film Jatuh Cinta Seperti di Film (2024), garapan sineas muda Riri Riza, tetap menjadi salah satu romansa remaja paling segar dan relatable di layar lebar Indonesia sepanjang tahun lalu hingga awal 2026. Berdurasi 112 menit, film ini dibintangi oleh Prilly Latuconsina sebagai Ara dan Bryan Domani sebagai Rama—dua mahasiswa yang bertemu di kampus seni swasta di Jakarta. Cerita berpusat pada Ara, perempuan yang terobsesi dengan film romansa klasik dan membayangkan cinta harus sempurna seperti di layar lebar, sementara Rama adalah sosok realistis yang justru skeptis terhadap konsep “cinta filmi”. Tayang perdana di bioskop nasional pada akhir 2024, film ini mendapat sambutan hangat dari penonton muda karena berhasil menangkap dilema generasi Z: ingin cinta yang dramatis tapi hidup di dunia yang penuh kenyataan pahit. INFO CASINO
Alur Cerita dan Konflik Realisme vs Romantisme: Review Film Jatuh Cinta Seperti di Film: Cinta di Film
Ara adalah mahasiswi sinematografi yang tumbuh besar dengan menonton film romansa Hollywood dan sinetron Indonesia. Baginya, cinta harus punya grand gesture, slow-motion, dan ending bahagia seperti di film. Ketika ia bertemu Rama—seniornya di kampus yang lebih suka dokumenter dan menganggap romansa hanyalah “ilusi sinematik”—terjadilah benturan kepribadian yang menjadi inti cerita. Rama sering menggoda Ara dengan kalimat “cinta itu bukan film, Ara, cinta itu kerja keras”.
Konflik utama muncul ketika Ara dan Rama terpaksa bekerja sama dalam proyek akhir semester: membuat film pendek romansa. Ara ingin cerita penuh drama dan keajaiban, sementara Rama bersikeras agar cerita realistis dan jujur. Proses syuting menjadi ajang perdebatan yang lucu sekaligus menyentuh: Ara memaksa adegan hujan romantis meski cuaca cerah, sementara Rama memaksa adegan “pertengkaran biasa” yang terasa lebih manusiawi. Perlahan, hubungan mereka berubah dari saling berdebat menjadi saling memahami—dan akhirnya saling menyukai.
Penampilan Prilly Latuconsina dan Bryan Domani: Review Film Jatuh Cinta Seperti di Film: Cinta di Film
Prilly Latuconsina sebagai Ara berhasil membawa karakter yang sangat autentik: perempuan muda yang terlalu banyak bermimpi tapi juga penuh keraguan. Prilly unggul dalam ekspresi wajah yang ekspresif—dari mata berbinar saat membayangkan adegan film hingga raut kecewa ketika realitas tidak sesuai harapan. Bryan Domani sebagai Rama tampil sangat natural sebagai sosok yang sarkastik tapi peduli. Chemistry keduanya terasa sangat alami, terutama di adegan-adegan improvisasi di lokasi syuting dan momen-momen diam di kafe kampus.
Pemeran pendukung seperti Beby Tsabina (sebagai sahabat Ara) dan Angga Yunanda (dalam cameo sebagai senior) menambahkan warna humor dan dukungan emosional yang pas. Secara keseluruhan, cast muda ini berhasil membuat penonton merasa sedang menyaksikan kehidupan mahasiswa seni di Jakarta yang sangat nyata.
Tema Utama dan Pendekatan Visual
Film ini mengeksplorasi tema pencarian jati diri melalui cinta dan seni. Ara belajar bahwa cinta tidak harus seperti di film—tidak perlu grand gesture atau ending sempurna—tapi cukup dengan kejujuran dan usaha kecil sehari-hari. Rama belajar bahwa romansa bukanlah kelemahan; ia bisa menjadi bagian dari kehidupan yang indah tanpa harus menyangkal realitas. Pesan utama film ini adalah bahwa “cinta filmi” boleh menjadi mimpi, tapi cinta nyata lebih berharga karena penuh ketidaksempurnaan.
Pendekatan visualnya sangat segar: warna-warna cerah di kampus seni kontras dengan nuansa hangat di lokasi syuting film pendek Ara. Adegan-adegan di kafe, perpustakaan, dan rooftop kampus terasa seperti potret kehidupan mahasiswa Jakarta yang relatable. Musik karya Andhika Triyadi menggunakan nada-nada lembut dan upbeat yang mendukung suasana tanpa mendominasi.
Kesimpulan
Jatuh Cinta Seperti di Film adalah romansa remaja yang manis, cerdas, dan sangat relatable—menyajikan kisah pencarian jati diri melalui cinta dengan cara yang ringan tapi tidak kosong. Penampilan Prilly Latuconsina dan Bryan Domani terasa sangat alami, sementara arahan Riri Riza berhasil menangkap esensi kehidupan mahasiswa seni di Jakarta yang penuh mimpi dan kenyataan. Film ini bukan tentang cinta sempurna seperti di layar lebar; ia justru tentang menerima bahwa cinta nyata sering kali jauh dari sempurna, tapi justru itulah yang membuatnya indah. Hingga 2026, film ini tetap menjadi tontonan favorit bagi generasi muda yang sedang mencari makna cinta di tengah dunia yang penuh ekspektasi “filmi”. Bagi penggemar rom-com seperti Critical Eleven, Dilan, atau My Boo, film ini adalah angin segar karena jujur, lucu, dan penuh harapan. Sebuah karya yang berhasil membuat penonton tersenyum, terharu, dan sedikit percaya bahwa cinta terbaik adalah cinta yang kita bangun sendiri—bukan yang kita tonton di layar.