Review Film Perempuan Tanah Jahanam: Kutukan Desa. Di tengah maraknya film horor Indonesia yang terus bermunculan, Perempuan Tanah Jahanam (2020) karya Joko Anwar tetap menjadi salah satu karya paling dibicarakan hingga awal 2026. Film ini berhasil menggabungkan elemen horor tradisional dengan kritik sosial tajam, dan hingga kini masih sering disebut sebagai salah satu film horor terbaik Tanah Air pasca-reformasi. Berlatar di desa terpencil yang menyimpan rahasia kelam, cerita mengikuti Maya (Tara Basro) dan Dini (Marissa Anita) yang kembali ke kampung halaman setelah kematian ibu mereka. Apa yang awalnya terlihat seperti urusan warisan ternyata membuka tabir kutukan desa yang sudah berlangsung puluhan tahun. Dengan durasi 107 menit, film ini tidak hanya menakutkan lewat jumpscare dan atmosfer gelap, tapi juga menyisakan rasa tidak nyaman karena menyentuh isu kekerasan terhadap perempuan, patriarki, dan trauma kolektif masyarakat desa. Review ini membahas makna mendalam di balik cerita, fokus pada tema kutukan desa sebagai simbol luka yang tak pernah sembuh. MAKNA LAGU
Sinopsis dan Alur Cerita yang Menggigit: Review Film Perempuan Tanah Jahanam: Kutukan Desa
Maya dan Dini tiba di desa untuk mengurus pemakaman ibu mereka yang meninggal secara misterius. Desa itu tampak sepi dan tertutup, dengan warga yang menghindari kontak mata dan berbicara dengan nada pelan. Semakin lama mereka tinggal, semakin banyak petunjuk aneh muncul: foto-foto lama yang menunjukkan perempuan-perempuan desa dengan ekspresi ketakutan, cerita tentang “perempuan tanah jahanam” yang dikutuk, dan penampakan sosok perempuan berpakaian putih yang terus mengintai. Alur bergerak lambat di awal, membangun ketegangan melalui dialog dan detail kecil—seperti tatapan curiga warga, suara angin malam, dan bau amis yang tak jelas asalnya. Puncaknya datang saat Maya menemukan buku catatan ibunya yang mengungkap rahasia besar: desa ini menyimpan tradisi kelam yang mengorbankan perempuan sebagai “persembahan” untuk menjaga keseimbangan atau kekayaan. Kutukan itu bukan hantu biasa, melainkan akumulasi trauma dan dosa kolektif yang terus berulang lintas generasi. Joko Anwar pintar membalik ekspektasi: yang menakutkan bukan makhluk gaib, melainkan manusia yang membiarkan kekejaman itu terus berlanjut demi “kebaikan bersama”.
Kekuatan Sinematik dan Kritik Sosial: Review Film Perempuan Tanah Jahanam: Kutukan Desa
Secara visual, film ini menggunakan palet warna dingin dan pencahayaan rendah untuk menciptakan rasa pengap dan terkurung. Desa yang sepi tapi penuh mata-mata menjadi metafor masyarakat yang diam-diam menutupi kekerasan. Tema kutukan desa di sini bukan sekadar hantu, melainkan simbol luka yang diturunkan: kekerasan terhadap perempuan, patriarki yang mengorbankan anak perempuan demi “tradisi”, dan rasa bersalah kolektif yang tidak pernah diakui. Maya dan Dini mewakili generasi baru yang mencoba memutus rantai itu—mereka tidak lagi mau diam, tapi justru dihadapkan pada kenyataan bahwa “kutukan” itu sudah merasuk ke dalam diri mereka sendiri. Joko Anwar juga menyisipkan kritik terhadap agama yang disalahgunakan untuk membenarkan kekejaman, serta sikap warga yang lebih memilih menutup mata daripada menghadapi kebenaran. Ending yang terbuka membuat penonton terus memikirkan: apakah kutukan itu benar-benar bisa diakhiri, atau hanya akan berpindah bentuk ke generasi berikutnya? Performa Tara Basro dan Marissa Anita sangat kuat—mereka berhasil menyampaikan rasa takut, marah, dan kelelahan tanpa terlihat berlebihan.
Dampak Budaya dan Relevansi di 2026
Enam tahun setelah rilis, Perempuan Tanah Jahanam masih sering dibahas di komunitas film Indonesia sebagai salah satu horor yang tidak hanya menakutkan, tapi juga mengajak penonton berpikir. Film ini berhasil membuka diskusi tentang kekerasan berbasis gender yang tersembunyi di balik “tradisi desa”, serta bagaimana masyarakat sering memilih diam demi menjaga “harmoni”. Di 2026, ketika isu kekerasan terhadap perempuan masih sering menjadi headline, pesan film ini terasa semakin relevan. Banyak penonton muda menggunakan cuplikan dialog seperti “Kutukan itu bukan dari setan, tapi dari kita sendiri” sebagai caption di media sosial untuk mengkritik sikap apatis masyarakat terhadap kekerasan. Film ini juga sering dijadikan referensi dalam kelas sinema atau diskusi tentang horor sosial di Indonesia—bukti bahwa horor bukan hanya untuk menakut-nakuti, tapi juga untuk mengungkap luka yang selama ini disembunyikan.
Kesimpulan
Perempuan Tanah Jahanam bukan sekadar film horor yang menyeramkan; ia adalah cermin tajam tentang kutukan desa yang sebenarnya adalah kutukan manusia—trauma, kekerasan, dan sikap diam yang terus diwariskan. Joko Anwar berhasil menyatukan elemen jumpscare dengan kritik sosial yang mendalam, membuat penonton tidak hanya takut, tapi juga merasa tidak nyaman dengan kenyataan yang ditampilkan. Di tengah Februari 2026, film ini tetap relevan sebagai pengingat bahwa “kutukan” terburuk bukan datang dari gaib, melainkan dari keengganan kita menghadapi kebenaran. Bagi siapa pun yang pernah merasa ada luka lama yang belum sembuh di keluarga atau lingkungan sekitar, film ini terasa seperti bisikan: ya, kutukan itu nyata, dan kita semua punya bagian di dalamnya. Itulah kekuatan sejatinya—menakutkan bukan karena hantu, tapi karena kebenaran yang terlalu dekat dengan kenyataan.