Review Film Marriage Story. Hampir enam tahun setelah tayang perdana pada akhir 2019, Marriage Story tetap menjadi salah satu film paling jujur dan menyayat hati tentang perceraian yang pernah dibuat hingga 2026 ini. Kisah Charlie dan Nicole Barber, pasangan yang saling mencintai tapi akhirnya harus berpisah, terus ditonton ulang karena keberaniannya menampilkan proses perpisahan tanpa pahlawan atau penjahat, hanya dua orang baik yang tidak lagi cocok satu sama lain. Film ini bukan drama perceraian biasa yang penuh teriakan atau pengkhianatan besar; ia justru fokus pada hal-hal kecil yang membuat hubungan retak—perbedaan prioritas, kelelahan emosional, dan kesulitan membagi hidup bersama anak. Di tengah tren film romansa yang sering manis atau penuh konflik ekstrem, Marriage Story menonjol karena realisme mentahnya, membuat banyak penonton merasa melihat potret hubungan mereka sendiri atau orang terdekat. Penayangan ulang di bioskop independen dan diskusi mendalam di kalangan pecinta film membuktikan bahwa karya ini tidak lekang waktu—ia tetap relevan karena berani menunjukkan bahwa cinta bisa berakhir tanpa ada yang salah, tapi tetap menyakitkan. REVIEW KOMIK
Narasi yang Seimbang dan Tidak Memihak: Review Film Marriage Story
Salah satu kekuatan terbesar film ini adalah cara cerita disajikan secara seimbang tanpa memihak salah satu pihak. Charlie, sutradara teater yang penuh passion tapi kadang egois, dan Nicole, aktris yang merasa identitasnya tertutup di balik karir suami, keduanya diperlihatkan dengan kelebihan dan kekurangan yang manusiawi. Narasi dimulai dengan surat cinta yang mereka tulis satu sama lain sebagai bagian terapi, menunjukkan betapa dalamnya perasaan mereka dulu, sebelum perlahan beralih ke pertengkaran hukum yang dingin dan melelahkan. Adegan-adegan kunci seperti pertengkaran panjang di apartemen New York atau mediasi yang berantakan terasa sangat nyata karena dialognya tidak dibuat dramatis berlebihan—ia penuh jeda, kata-kata yang terpotong, dan emosi yang meledak secara tiba-tiba lalu reda lagi. Film ini tidak menjadikan perceraian sebagai pertarungan siapa yang lebih benar; ia menunjukkan bahwa keduanya menderita, keduanya berusaha menjadi orang tua yang baik, dan keduanya akhirnya harus menerima bahwa cinta mereka sudah tidak bisa diperbaiki. Pendekatan ini membuat penonton ikut merasakan kepedihan tanpa bisa menyalahkan salah satu karakter, sehingga akhir film terasa bittersweet dan sangat manusiawi.
Performa Aktor yang Luar Biasa dan Emosional: Review Film Marriage Story
Performa dua pemeran utama menjadi jantung yang membuat Marriage Story terasa begitu hidup dan menyakitkan. Charlie digambarkan sebagai pria yang tulus mencintai keluarganya tapi sering tidak peka terhadap kebutuhan istri, sementara Nicole adalah wanita yang kuat tapi merasa tercekik dalam peran istri dan ibu. Chemistry mereka di masa lalu terlihat melalui kilas balik kecil yang hangat, tapi di masa kini berubah menjadi ketegangan yang menusuk. Adegan pertengkaran panjang di ruang tamu menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sinema modern—teriakan, air mata, kata-kata yang menyakitkan, dan akhirnya pelukan yang penuh penyesalan—semuanya disampaikan dengan intensitas yang luar biasa tanpa terasa dibuat-buat. Pemeran pendukung, terutama pengacara keduanya, menambah lapisan realisme dengan sikap profesional yang dingin namun manusiawi. Tidak ada akting over-the-top; justru keheningan, tatapan mata yang lelah, dan suara yang pecah membuat emosi terasa tulus dan mendalam. Penonton sering merasa seperti mengintip pertengkaran pasangan sungguhan, bukan menyaksikan akting, sehingga setiap emosi yang ditampilkan terasa langsung mengenai hati.
Tema Perceraian Modern dan Pengorbanan Orang Tua
Di balik cerita pribadi Charlie dan Nicole, film ini menyampaikan tema besar tentang perceraian di era modern—bagaimana sistem hukum sering memperburuk luka emosional, bagaimana anak menjadi pusat konflik tanpa bisa memilih, dan bagaimana dua orang dewasa harus belajar melepaskan meski masih saling peduli. Film ini tidak menghakimi siapa pun; ia menunjukkan bahwa perceraian bukan akhir dunia, tapi proses panjang yang penuh rasa sakit, rasa bersalah, dan akhirnya penerimaan. Adegan akhir di mana Charlie mengejar anaknya setelah pertunjukan sekolah menjadi simbol kuat dari cinta orang tua yang tetap ada meski hubungan romansa telah berakhir. Tema ini terasa semakin relevan di 2026, ketika banyak pasangan menghadapi tantangan serupa: tekanan karir, jarak geografis, dan kesulitan membagi waktu untuk anak. Film ini tidak memberikan solusi mudah atau akhir bahagia paksa; ia hanya menunjukkan bahwa kadang yang terbaik untuk semua pihak adalah berpisah dengan hormat, meski prosesnya sangat menyakitkan.
Kesimpulan
Marriage Story tetap menjadi salah satu film paling jujur tentang perceraian dan akhir hubungan karena keberaniannya menampilkan realitas tanpa filter romantis atau dramatis berlebih. Narasi seimbang, performa aktor yang luar biasa, serta tema tentang pengorbanan dan penerimaan membuatnya abadi dan terus menyentuh hati penonton baru. Di tengah banyak film romansa yang menjanjikan cinta selamanya, film ini mengingatkan bahwa kadang cinta berakhir bukan karena kebencian, melainkan karena kehidupan yang mengubah orang. Bagi siapa pun yang pernah mengalami atau menyaksikan perpisahan, film ini seperti cermin emosional yang pahit tapi menyembuhkan. Jika belum menonton ulang dalam beberapa tahun atau baru pertama kali melihat, inilah saat yang tepat—siapkan tisu, matikan lampu, dan biarkan diri terbawa dalam kisah Charlie dan Nicole yang tak sempurna tapi sangat manusiawi. Film ini bukan hanya tentang akhir cinta; ia tentang bagaimana kita bertahan dan tumbuh setelahnya.