Review Film Josee, the Tiger and the Fish: Cinta yang Hangat. Josee, the Tiger and the Fish, film anime Jepang yang dirilis pada akhir 2020, tetap menjadi pembicaraan hangat di kalangan penggemar romansa hingga awal 2026. Meskipun telah lewat lebih dari lima tahun sejak tayang perdana di bioskop Jepang dan kemudian secara global melalui platform streaming seperti Netflix dan Crunchyroll, film ini masih sering direkomendasikan sebagai kisah cinta yang menyentuh tanpa drama berlebih. Disutradarai oleh Kotaro Tamura dari studio Bones, adaptasi dari cerita pendek karya Seiko Tanabe ini dibintangi suara Taishi Nakagawa sebagai Tsuneo Suzukawa dan Kaya Kiyohara sebagai Josee. Dengan durasi 98 menit, film ini menggabungkan elemen romansa, drama, dan inspirasi hidup, menyoroti hubungan antara pemuda ambisius dan gadis penyandang disabilitas yang penuh imajinasi. Rating IMDb 7.6/10 dan Rotten Tomatoes di atas 90% menunjukkan apresiasi luas, terutama di Indonesia di mana anime romansa semakin populer. Di tengah tren film yang menekankan representasi disabilitas, Josee sering disebut sebagai contoh positif yang hangat dan realistis, membuatnya relevan untuk ditonton ulang saat butuh cerita uplifting. INFO CASINO
Sinopsis dan Plot Utama: Review Film Josee, the Tiger and the Fish: Cinta yang Hangat
Cerita berfokus pada Tsuneo, mahasiswa biologi laut yang bekerja paruh waktu untuk mewujudkan mimpi belajar di Meksiko. Suatu malam, ia menyelamatkan Josee, seorang gadis lumpuh yang jatuh dari kursi rodanya saat kabur dari rumah. Josee, yang sebenarnya bernama Kumiko, hidup terisolasi bersama neneknya, menghabiskan hari dengan membaca dan menggambar, sambil menamai dirinya dari tokoh dalam novel Françoise Sagan. Awalnya, Tsuneo menjadi pengasuh Josee atas permintaan neneknya, tapi hubungan mereka berkembang dari ketegangan menjadi saling pengertian. Plot mengikuti perjalanan mereka menjelajahi dunia luar—dari perpustakaan hingga akuarium—di mana Josee belajar keluar dari cangkangnya, sementara Tsuneo menghadapi konflik antara mimpi pribadi dan tanggung jawab. Konflik muncul dari ketakutan Josee akan penolakan dan tekanan hidup Tsuneo, tapi diselesaikan dengan cara sederhana tanpa twist berbelit. Alur cerita ringkas, dengan pacing yang stabil di paruh pertama dan emosional di akhir, meski beberapa penonton mengkritik kurangnya kedalaman di subplot seperti hubungan Tsuneo dengan teman-temannya. Secara keseluruhan, narasi tetap fokus pada pertumbuhan karakter, membuatnya mudah dinikmati dalam satu tontonan.
Voice Acting dan Chemistry Pemeran: Review Film Josee, the Tiger and the Fish: Cinta yang Hangat
Kekuatan utama film ini terletak pada voice acting yang natural dan chemistry antar karakter. Taishi Nakagawa sebagai Tsuneo menyampaikan ambisi dan kehangatan dengan tepat—dari nada tegas di awal hingga lembut saat mendukung Josee, transisinya terasa autentik tanpa berlebihan. Kaya Kiyohara sebagai Josee bersinar dengan ekspresi emosi yang berlapis; suaranya mencerminkan kerapuhan dan kekuatan batin, terutama di adegan monolog yang menyentuh. Chemistry mereka terbangun melalui dialog sehari-hari yang ringan, seperti perdebatan tentang mimpi atau lelucon kecil, yang membuat romansa terasa organik. Pemeran pendukung seperti Lynn sebagai Mai Ninomiya, sahabat Tsuneo, dan Yume Miyamoto sebagai nenek Josee menambah kedalaman—Mai membawa elemen persaingan ringan, sementara nenek memberikan nasihat bijak. Meski ini anime, akting suara setara dengan film live-action, dengan timing yang pas untuk humor dan drama. Kritik minor datang pada beberapa dialog yang terasa klise, tapi secara ensemble, para seiyuu berhasil membuat karakter hidup, terutama dalam menggambarkan dinamika disabilitas tanpa stereotip. Penonton sering memuji bagaimana voice acting memperkuat tema empati, membuat film ini lebih dari sekadar romansa biasa.
Tema dan Elemen Visual
Josee, the Tiger and the Fish mengeksplorasi tema cinta yang hangat, representasi disabilitas, dan pengejaran mimpi dengan pendekatan yang sensitif. Film ini menekankan bagaimana hubungan bisa mendorong seseorang keluar dari zona nyaman—Josee belajar mandiri, sementara Tsuneo menyadari pentingnya keseimbangan hidup. Elemen visual dari studio Bones memukau, dengan animasi halus yang menangkap detail seperti air di akuarium atau cahaya matahari di kota Osaka, menciptakan nuansa romantis yang dreamy. Soundtrack oleh Evan Call, dengan lagu tema “Take Me Far Away” dari Kotringo, memperkuat emosi tanpa mendominasi. Humor muncul dari situasi absurd seperti petualangan Josee di luar rumah, sementara momen dramatis seperti konfrontasi dengan masa lalu ditangani dengan subtil. Meski ada kritik bahwa tema disabilitas terkadang terasa idealis, film ini berhasil menghindari pity trope dengan menunjukkan Josee sebagai karakter kuat dan kreatif. Elemen simbolis seperti harimau (kekuatan) dan ikan (kebebasan) menambah lapisan, membuatnya cocok untuk diskusi tentang inklusivitas. Di era 2026, di mana representasi semakin penting, film ini tetap segar sebagai reminder bahwa cinta sejati adalah tentang saling mendukung, bukan memperbaiki.
kesimpulan
Josee, the Tiger and the Fish adalah film romansa yang hangat dan inspiratif, ideal untuk mereka yang mencari cerita sederhana tapi bermakna di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Dengan plot ringkas, voice acting memikat, dan visual memukau, anime ini layak mendapat tempat di daftar tontonan favorit, meski bukan yang paling revolusioner. Tema tentang empati dan mimpi membuatnya tetap relevan hingga kini, terutama bagi penggemar genre slice-of-life. Jika belum menonton, ini saatnya merasakan pesona Tsuneo dan Josee—jaminan senyum dan renungan setelahnya.