Review Film Joker 2: Apa yang Salah dengan Folie à Deux? Joker: Folie à Deux yang tayang sejak Oktober 2024 masih menjadi salah satu film paling kontroversial dan dibenci sekaligus dibela hingga awal 2026. Sekuel dari Joker (2019) karya Todd Phillips ini membawa kembali Joaquin Phoenix sebagai Arthur Fleck yang kini menghuni Arkham State Hospital, dan memperkenalkan Lady Gaga sebagai Lee (Harley Quinn versi baru). Dengan durasi 138 menit dan rating R, film ini justru gagal total di box office—hanya meraup sekitar US$205 juta secara global dari budget US$200 juta, angka yang sangat mengecewakan untuk sekuel superhero sekelas ini. Rating Rotten Tomatoes 33% dari kritikus dan 45% dari penonton menjadi salah satu yang terendah dalam sejarah franchise DC. Pertanyaan besar yang terus muncul: apa yang sebenarnya salah dengan Folie à Deux? BERITA TERKINI
Konsep Musikal yang Terasa Dipaksakan di Film Joker 2: Review Film Joker 2: Apa yang Salah dengan Folie à Deux?
Salah satu keputusan paling kontroversial adalah mengubah sekuel ini menjadi musikal. Hampir sepertiga film berisi adegan nyanyi dan tari yang melibatkan Arthur dan Lee di dalam penjara maupun ruang sidang. Lagu-lagu yang dipakai sebagian besar adalah cover dari standar jazz dan pop klasik seperti “That’s Entertainment”, “If My Friends Could See Me Now”, dan “Gonna Build a Mountain”. Banyak kritikus dan penonton merasa elemen musikal ini terasa dipaksakan dan tidak organik dengan cerita. Joker pertama dikenal karena realisme psikologis yang gelap dan mentah—tidak ada ruang untuk lagu-lagu ceria di tengah kekacauan mental Arthur. Di Folie à Deux, adegan nyanyi justru sering muncul di momen yang seharusnya tegang atau serius, membuat nada film jadi bercampur aduk antara drama psikologis dan musikal Broadway. Bagi sebagian orang ini terasa segar dan artistik, tapi bagi mayoritas terasa seperti pengkhianatan terhadap tone film pertama yang sangat serius.
Performa Joaquin Phoenix dan Lady Gaga: Review Film Joker 2: Apa yang Salah dengan Folie à Deux?
Joaquin Phoenix tetap memberikan penampilan yang sangat kuat sebagai Arthur Fleck versi tahanan—ia berhasil mempertahankan kegilaan dan kerapuhan karakter dari film pertama. Namun kali ini Arthur lebih pasif dan kurang memiliki arc yang jelas; ia lebih banyak bereaksi daripada menggerakkan cerita. Banyak yang merasa Phoenix kurang diberi ruang untuk “meledak” seperti di Joker pertama. Lady Gaga sebagai Lee (Harley Quinn) juga tampil bagus secara vokal—suara nyanyinya kuat dan penuh emosi—tapi karakternya terasa kurang berkembang. Lee lebih banyak berfungsi sebagai “cermin” bagi Arthur daripada karakter mandiri dengan motivasi jelas. Chemistry mereka memang ada, tapi tidak sekuat yang diharapkan dari dua bintang sekelas ini. Beberapa kritik bilang Gaga terasa underutilized karena lebih banyak nyanyi daripada berakting mendalam.
Kelemahan Cerita dan Pacing
Cerita Folie à Deux terasa sangat lambat dan minim aksi. Sebagian besar film berlangsung di ruang sidang, ruang kunjungan penjara, dan ruang terapi—hampir tidak ada adegan kekerasan atau kekacauan besar seperti di film pertama. Banyak penonton merasa kecewa karena mengharapkan kelanjutan kegilaan Arthur sebagai Joker, tapi malah mendapat drama pengadilan dan musikal yang lebih banyak bicara daripada bertindak. Ending film juga menjadi salah satu yang paling dibenci—banyak yang merasa terlalu gelap, nihilistik, dan tidak memberikan penutupan yang memuaskan. Bagi sebagian penggemar, ini dianggap sebagai pengkhianatan terhadap legacy Joker pertama yang sangat kuat dan ikonik. Pacing lambat ditambah durasi panjang membuat beberapa penonton merasa bosan dan kehilangan minat di babak tengah.
Respon Penonton dan Dampak
Penonton Indonesia yang sudah menonton film ini mayoritas kecewa—banyak yang bilang “tidak seperti Joker pertama sama sekali” dan merasa tertipu oleh ekspektasi musikal yang terlalu dominan. Box office yang buruk (hanya US$205 juta dari budget US$200 juta) menjadikan Folie à Deux sebagai salah satu kegagalan terbesar DC di era modern. Di media sosial, meme dan kritik keras terhadap ending serta keputusan musikal membanjiri diskusi. Film ini juga memicu perdebatan soal ekspektasi penonton vs visi sutradara—Audiard ingin membuat anti-musikal yang gelap dan tidak menghibur, tapi banyak yang merasa itu tidak cocok dengan karakter Joker yang seharusnya lebih chaotic dan energik.
Kesimpulan
Joker: Folie à Deux adalah sekuel yang sangat berani tapi gagal memenuhi ekspektasi mayoritas penonton. Pendekatan musikal yang ekstrem, pacing lambat, dan ending yang nihilistik membuat film ini terasa seperti pengkhianatan bagi banyak penggemar film pertama. Meski performa Joaquin Phoenix dan Lady Gaga tetap kuat serta visualnya indah, cerita yang kurang fokus dan minim aksi membuatnya sulit dinikmati sebagai film superhero atau thriller. Worth it? Hanya kalau kamu siap dengan film yang sangat lambat, gelap, dan anti-konvensional—bukan kalau kamu mengharapkan kelanjutan kegilaan Joker 2019. Bagi sebagian orang ini adalah karya seni yang berani, tapi bagi kebanyakan penonton biasa, Folie à Deux terasa seperti kesalahan besar. Nonton kalau penasaran—tapi siapkan ekspektasi rendah dan kesabaran tinggi. Film ini memang unik, tapi tidak semua keunikan itu enak ditonton.