Review Film Lagi-Lagi Ateng: Petualangan Ateng dan Sahabat. Lagi-Lagi Ateng (2019), film komedi petualangan garapan Sutradara Monty Tiwa yang tayang 31 Januari 2019, tetap menjadi salah satu karya nostalgia paling dicari dan ditonton ulang oleh keluarga Indonesia hingga awal 2026. Film ini menghidupkan kembali karakter Ateng yang legendaris (diperankan oleh Ateng Sutisna Jr., putra Ateng asli) bersama sahabat-sahabatnya dalam cerita baru yang ringan namun penuh nilai kekeluargaan. Dengan durasi 100 menit, film ini berhasil menarik lebih dari 1,2 juta penonton di bioskop dan kini rutin menjadi tontonan akhir pekan di platform streaming. Berlatar Jakarta dan sekitarnya, cerita mengikuti petualangan Ateng dan geng sahabatnya yang berusaha menyelamatkan kampung dari penggusuran sambil menjalani berbagai kekonyolan sehari-hari. Di balik tawa dan slapstick khas Ateng, film ini sebenarnya adalah pengingat manis tentang persahabatan sejati, keberanian membela kampung halaman, dan nilai-nilai sederhana yang mulai luntur di tengah modernisasi. BERITA TERKINI
Petualangan Kocak Ateng dan Geng Sahabat: Review Film Lagi-Lagi Ateng: Petualangan Ateng dan Sahabat
Cerita berpusat pada Ateng, seorang pemuda sederhana yang tinggal di kampung pinggiran Jakarta bersama sahabat-sahabatnya: Mandra (Mandra Nai), Siti (Siti KDI), dan Doel (Doel Sumarsono). Ketika tanah kampung mereka akan digusur untuk proyek apartemen mewah, Ateng dan kawan-kawan bertekad melawan dengan cara mereka sendiri: mengumpulkan bukti, membuat petisi, dan melakukan berbagai aksi konyol yang malah sering berbalik jadi bumerang lucu.
Petualangan mereka penuh adegan slapstick klasik: Ateng salah masuk rumah orang, Mandra terjebak di got, Siti bernyanyi KDI di saat genting, dan Doel yang selalu jadi penutup kekacauan. Film ini mempertahankan gaya humor Ateng era 70-80-an—fisik, verbal, dan situasional—tapi dikemas dengan sinematografi modern dan editing yang lebih rapi. Kekonyolan tidak berlebihan, justru terasa hangat karena terasa seperti kekacauan keluarga besar di kampung.
Karakter dan Nilai Kekeluargaan: Review Film Lagi-Lagi Ateng: Petualangan Ateng dan Sahabat
Ateng Jr. berhasil membawa karakter ayahnya dengan cukup baik: polos, baik hati, tapi agak ceroboh—persis seperti Ateng asli. Ia mewakili generasi yang masih percaya bahwa kebaikan dan persahabatan bisa mengalahkan uang dan kekuasaan. Mandra sebagai sahabat setia memberikan komedi verbal yang kuat, Siti membawa warna perempuan tangguh, dan Doel sebagai “otak” kelompok menambah keseimbangan.
Keluarga Ateng (termasuk ibu dan adik-adik) digambarkan dengan hangat—mereka hidup sederhana tapi penuh kasih sayang. Konflik penggusuran tidak dibuat terlalu berat; justru digunakan sebagai latar untuk menonjolkan nilai kekeluargaan, gotong royong, dan keberanian membela hak bersama. Pesan moralnya sederhana tapi kuat: jangan lupa akar kampung, karena di situlah nilai sejati berada.
Makna Lebih Dalam: Nostalgia dan Pertahanan Kampung
Di balik komedi, Lagi-Lagi Ateng adalah film tentang pertahanan kampung di tengah gempuran modernisasi. Kampung yang digusur menjadi simbol hilangnya ruang hidup masyarakat kecil di kota besar. Film ini juga menjadi penghormatan kepada era Ateng klasik: humor yang polos, persahabatan yang tulus, dan semangat gotong royong yang mulai luntur di zaman sekarang.
Banyak penonton—terutama generasi 80-90-an—merasa film ini seperti pengingat manis masa kecil: waktu ketika kampung masih penuh tawa, sahabat selalu bersama, dan masalah diselesaikan dengan kekompakan. Makna terdalamnya adalah bahwa “lagi-lagi Ateng” bukan hanya tentang karakter, melainkan tentang semangat yang ingin dihidupkan kembali: jangan biarkan kampung halaman hilang hanya karena uang.
Kesimpulan
Lagi-Lagi Ateng adalah film yang langka: lucu sekaligus sangat hangat, ringan tapi penuh makna, dan nostalgia tanpa terasa kuno. Kekuatan utamanya terletak pada potret persahabatan kampung yang autentik, penampilan Ateng Jr. yang berhasil membawa warisan ayahnya, serta pesan sederhana bahwa kampung dan kekeluargaan adalah harta yang tak ternilai. Di tengah banjir film remaja yang penuh drama berlebihan, Lagi-Lagi Ateng menawarkan kejujuran dan kehangatan yang menyegarkan. Jika kamu mencari tontonan akhir pekan yang bikin ketawa sambil merasa rindu masa kecil, film ini sangat direkomendasikan. Lagi-Lagi Ateng bukan sekadar film komedi lama yang dihidupkan kembali; ia adalah surat cinta kepada kampung halaman dan persahabatan yang tulus. Dan itu, pada akhirnya, adalah makna paling indah dari sebuah film.