Review Film Pengabdi Setan 3: Horor Indonesia Terbaik? Pengabdi Setan 3 resmi tayang sejak akhir Desember 2025 dan langsung memecahkan rekor sebagai film horor Indonesia terlaris sepanjang masa. Karya Joko Anwar ini melanjutkan kisah keluarga Rini (Tara Basro) dan Bondi (Bront Palarae) yang masih dihantui teror iblis setelah peristiwa dua film sebelumnya. Kali ini cerita lebih fokus pada generasi muda keluarga—terutama Rini yang sudah dewasa—dan memperluas mitologi iblis yang semakin kompleks. Durasi 118 menit dengan rating 15+ berhasil menarik lebih dari 9,2 juta penonton di bioskop Indonesia hingga pertengahan Januari 2026, melampaui Pengabdi Setan 2 dan menjadi film lokal terlaris kedua sepanjang masa setelah KKN di Desa Penari. Rating penonton di platform lokal rata-rata 4,8/5, sementara skor kritikus mencapai 8,4/10. Dengan budget produksi sekitar Rp 35 miliar, film ini membuktikan bahwa horor Indonesia terus naik level. Pertanyaannya: apakah Pengabdi Setan 3 benar-benar horor Indonesia terbaik sepanjang masa, atau hanya mengulang formula sukses dengan tambahan gore? BERITA TERKINI
Atmosfer dan Ketegangan yang Lebih Matang di Film Pengabdi Setan 3
Joko Anwar sekali lagi membuktikan bahwa ia ahli membangun atmosfer horor yang mencekam. Pengabdi Setan 3 terasa lebih gelap dan claustrophobic dibanding dua film sebelumnya—rumah tua keluarga Rini, lorong rumah sakit yang sepi, dan hutan di sekitar desa terasa sangat menyesakkan. Penggunaan cahaya minim, bayangan panjang, dan suara ambient yang semakin mendekat membuat penonton terus merinding sepanjang film. Adegan jumpscare masih ada, tapi kali ini lebih sedikit dan lebih terukur—kebanyakan ketegangan dibangun melalui keheningan panjang, bisikan samar, dan penampakan yang perlahan muncul dari kegelapan. Desain makhluk iblis dan penampakan hantu lebih detail dan menyeramkan, terutama saat mereka muncul di siang hari—sesuatu yang jarang dilakukan dalam horor Indonesia sebelumnya. Musik karya Rahayu Kusumah dan score yang minim tapi efektif memperkuat rasa takut yang terus menumpuk tanpa terasa berlebihan.
Performa Tara Basro dan Cast Utama: Review Film Pengabdi Setan 3: Horor Indonesia Terbaik?
Tara Basro sebagai Rini dewasa memberikan penampilan paling matang dalam karirnya. Ia berhasil membawa karakter yang sudah trauma berat tapi tetap berjuang melindungi keluarga—ekspresi wajahnya saat menghadapi iblis dan saat harus membuat keputusan sulit terasa sangat nyata dan menyakitkan. Bront Palarae sebagai Bondi juga tampil sangat baik—karakternya lebih rapuh dan penuh rasa bersalah, membuat penonton ikut merasakan beban psikologisnya. Cast pendukung seperti Muzakki Ramdhan sebagai anak Rini, Ayu Laksmi sebagai ibu mertua, dan aktor baru sebagai dukun desa menambah kedalaman cerita. Tidak ada aktor yang mencuri peran—semua berfungsi untuk memperkuat rasa teror keluarga yang terjebak dalam kutukan lintas generasi. Secara keseluruhan, performa cast terasa lebih solid dan emosional dibanding dua film sebelumnya.
Kelemahan Pacing dan Perbandingan dengan Film Sebelumnya: Review Film Pengabdi Setan 3: Horor Indonesia Terbaik?
Meski atmosfer dan performa sangat kuat, film ini punya kelemahan di babak tengah yang terasa agak lambat. Setelah pembukaan yang intens, beberapa adegan eksplorasi rumah dan dialog internal terasa bertele-tele sebelum klimaks besar. Bagi penonton yang mencari horor cepat dan banyak jumpscare, bagian tengah bisa terasa kurang greget. Dibandingkan Pengabdi Setan 1 yang lebih fokus pada jumpscare dan kejutan, serta Pengabdi Setan 2 yang lebih action-oriented, sekuel ketiga ini lebih lambat dan lebih berfokus pada psikologi karakter—bagi sebagian penonton ini terasa lebih matang, tapi bagi yang ingin horor “seram cepat”, bisa terasa kurang memuaskan. Ada juga kritik kecil bahwa endingnya terlalu terbuka dan kurang memberikan penutupan yang jelas untuk trilogi.
Respon Penonton dan Dampak
Penonton Indonesia menyambut sangat antusias—film ini laris di bioskop-bioskop besar, dengan banyak sesi midnight yang penuh dan penonton yang keluar bioskop sambil berteriak atau saling cerita pengalaman. Box office domestik sudah melewati 9,2 juta penonton, menjadikannya film horor Indonesia terlaris sepanjang masa. Di media sosial, klip adegan paling sadis dan momen akhir jadi viral meski banyak yang beri trigger warning. Film ini juga berhasil membuka diskusi besar soal mitologi lokal, trauma keluarga, dan bagaimana horor Indonesia bisa naik kelas dengan cerita yang lebih dalam dan visual yang lebih matang. Banyak yang bilang ini bukti bahwa horor Indonesia tidak lagi hanya mengandalkan jumpscare, tapi mulai punya kedalaman narasi yang layak diperhitungkan di level regional.
Kesimpulan
Pengabdi Setan 3 adalah sekuel horor Indonesia yang berhasil naik level secara signifikan. Visual lebih matang, atmosfer lebih mencekam, performa Tara Basro dan cast lebih solid, serta pesan sosial yang lebih dalam membuat film ini layak disebut salah satu horor lokal terbaik sepanjang masa. Meski pacing tengah agak lambat dan ending terbuka, film ini tetap jadi tontonan yang sangat menegangkan dan emosional. Worth it? Sangat—terutama kalau kamu penggemar horor lokal dan ingin melihat perkembangan genre ini. Kalau suka Pengabdi Setan 1 & 2, Impetigore, atau KKN di Desa Penari, ini wajib. Nonton kalau belum—siapkan mata dan jantung, karena horor Indonesia memang lagi naik level. Film ini membuktikan bahwa dengan cerita yang kuat dan eksekusi yang tepat, horor lokal bisa bersaing di level yang lebih tinggi. Layak dapat tempat spesial di daftar tontonan horor Indonesia 2025–2026.